Hidup tapi Mati

Satu–satunya hal yang membuat Saya sedih saat ini adalah belum sanggupnya Saya untuk membahagiakan orang tua Saya, terutama Ibu Saya yang sudah tidak lagi muda. Minimal bisa mencari makan sendirilah, tidak lagi merepotkan orang tua. Ibu Saya kelahiran tahun 1958 dan Bapak Saya kelahiran 1959. Hitung sendiri saja usia mereka saat ini. Saya sering menangis sembunyi–sembunyi, kan malu kalau sudah gede masih nangis. Kadang kalau Ibu Saya sedang memasak atau sedang makan ataupun menonton tv, Saya sering memerhatikan dan memikirkan, sampai dengan kapan keadaan Saya seperti ini saja?

Tahun 1991 Saya lahir, sudah seperempat abad lebih Saya hidup, tapi belum juga bisa menghasilkan kebanggaan untuk keluarga Saya. Mendapatkan gelar, mendapat pekerjaan, mempunyai pacar yang didapat dari hasil mencari sendiri. Minimal untuk membuktikan bahwa Saya ini lelaki normal yang masih suka dan tertarik sama perempuan. Syukur–syukur Saya bisa hidup normal seperti orang lain, punya pekerjaan, punya rumah sendiri, berumah tangga menikahi perempuan yang Saya cintai yang entah berapa lama lagi hal itu akan Saya capai. Kalaupun tidak punya rumah sendiri, setidaknya bisa nge–kos atau ngontrak karena Saya tidak mau jika harus numpang pada mertua, bisa mati Saya jika orang seperti Saya harus ikut nimbrung di rumah mertua. Ini sih cuman angan–angan belaka Saya saja, anggap saja Saya sedang berdelusi.

Baru saja beberapa hari yang lalu, Ibu Saya ngomong sama Saya:

“Geura lulusnya, geura gawe, geura boga kabogoh terus kawin, atau ngke arek dipangneangkeun wehnya ameh meunang anu bageur.”

Kurang lebih artinya seperti ini:

“Cepet lulus, cepet dapet kerja, cepet punya pacar terus nikah, atau nanti dicariin ajah biar dapet pasangan yang baik.”

Saya dieum saja. Mau ngomong apa, Sampai sekarang Saya belum bisa berencana sampai sejauh itu. Paling cuman menghayal saja.

Wajarnya orang normal, pasti ingin punya pasangan yang didapat sesuai keinginan sendiri, tapi melihat keadaan Saya yang seperti ini boro–boro kepikiran sampai sana. Makan dan minum saja masih minta. Tidak terbayang, kok bisa ya teman–teman Saya sudah pada menikah. Sudah mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Teman yang dulu lebih koplak daripada Saya, teman yang seakan tidak pernah serius menjalani hidupnya, tapi sekarang sudah pada menikah dan sudah menjalani kehidupan normal seperti pada umumnya, sudah menjalankan perintah agama dengan baik. Saya sih boro–boro menjalankan perintah agama, ngaji iqro saja tidak tamat. Kacau Saya.

l

Saya masih punya adik yang seharusnya biaya kuliahnya sudah wajib Saya tanggung, tapi malah kuliah Saya sendiri belum beres–beres. “Kamu ini kuliah atau sedang bercanda”, tanya mereka(orang–orang) pada Saya. Seharusnya Saya sudah bisa memberi nafkah pada keluarga.

Dulu Saya sering mengobrol dengan kakak Saya yang laki–laki, kakak Saya yang pertama. Sampai dengan Saya SMA, Saya masih sering mengobrol dengan kakak Saya, tapi ketika mulai memasuki kuliah sudah jarang mengobrol lagi, puncaknya ketika Ibu Saya sakit parah pada tahun 2013. Ibu sakit telinga berdengung Tinitus. Kata ibu Saya, telinganya berdengung seperti kapal terbang yang mesinnya menyala di depan mukanya, kurang lebih seperti itu. Memang setelah Saya tahu ternyata penyakit itu memang tidak bisa sembuh, karena syaraf di dalam telinganya sudah rusak karena tekanan tulang telinga. Kalau orang yang belum tahu, mungkin menyepelekan penyakit ini, tapi sebenarnya penyakit ini sangat amat menyiksa karena mengakibatkan tidak bisa tidur karena saking berisiknya di telinganya. Mungkin kalian akan merasa lucu mendengar penyakit ini, tapi kalau kalian bisa berempati, rasanya kalian akan ikut sedih.

Sebenarnya di agama Saya yang namanya penyakit pasti ada obatnya, tapi berdasarkan vonis dokter–dokter, iya dokter–dokter karena bukan satu dokter saja tapi sudah banyak bahkan sampai berobat ke alternatif belum juga menunjukkan hasil yang membaik. Mungkin bukan tidak ada obatnya, tapi belum ditemukan obatnya saja. Sebenarnya Saya juga mengalami telinga berdenging, seperti setelah mendengar suara yang keras efeknya berdenging seperti itu, dan bunyinya tidak berhenti. Mungkin tidak sekeras yang dialami Ibu Saya, dan jangan sampai. Tapi cukup mengganggu saat sedang akan tidur, berdenging yang mempersulit dan cukup mengganggu. Mungkin efek karena Saya sering mendengarkan musik dengan headset dengan volume yang kekerasan. Kalau kamu berpikir Saya sedang berbohong, rasanya tidak lucu hal seperti itu Saya buat–buat.

Semakin ke sini Saya semakin jarang mengobrol dengan orang–orang. Bukan karena Saya sedang kesambet, tapi setiap kali Saya mulai banyak bicara pada orang–orang, Saya merasa tidak cukup pantas untuk sekedar mengobrol dengan orang lain dikarenakan Saya selalu kepikiran dengan keadaan Saya yang masih nganggur sampai dengan saat ini, termasuk mengobrol dengan kakak Saya ataupun keluarga Saya. Kecuali Ibu Saya. Iya, Saya paling dekat dengan Ibu Saya. Walaupun sangat cerewet, tapi Ibu Sayalah yang masih bisa maklum dengan keadaan Saya. Setidaknya sampai dengan saat Saya menulis ini. Entah kedepannya apakah Ibu Saya masih bisa maklum atau malah membenci Saya karena semua ulah dan kesalahan Saya.

Saya cuma ingin semua keadaan menjadi sedikit lebih baik daripada keadaan saat ini.

Senin 13 Agustus 2018

1 Komentar

  1. Taufik Nurrohman

    Tunggu… dan baca jurnal ini kembali 3 tahun kemudian.
www.000webhost.com