Karmapala

Kita tahu selama ini bahwa Rama dan Sinta adalah kisah cinta abadi dan tulus. Namun, kita mestinya lebih tahu, bisa saja Sinta tidak benar-benar mencintai Rama, melainkan Rahwana–lah yang sangat dicintainya.

Rama: “Sinta, Aku cinta padamu, Kamu mau gak jadi pacarku?”

Sinta: “Najis lo, gue cuman cinta sama Rahwana, karena dia berani mengorbankan dirinya sendiri bahkan negerinya sendiri untuk menculik ku dan mengurungku demi cintanya padaku… Bahkan Ia mengorbankan adiknya, Wibisana dan Kumbakarna demi Aku…”

Rama: “Bukankah Aku pun berkorban banyak seperti itu?”

Sinta: “Tidak!! Kau hanya pecundang yang hanya berani menyuruh Hanoman untuk membawaku kembali kepadamu!!”

Rama: “Lalu, cintamu itu untuk siapa?”

Sinta: “Tentu saja Rahwana.”

Rama: “Bagaimana mungkin Kamu bisa memiliki perasaan pada orang ketiga yang tak bertata krama dalam bertindak? Apa Kamu sudah tidak waras?”

Sinta: “Mana ada cinta yang waras. Kalau cinta itu waras, tak mungkin Kamu dan Rahwana berperang habis-habisan hanya demi Aku…”

Rama: “Cinta itu butuh pengorbanan Sin…”

Sinta: “Pengorbananmu masih kalah jauh dibanding pengorbanan seorang Dasamuka padaku.”

‘Cinta’ tak butuh pengorbanan. Ketika dirimu merasa berkorban untuk cinta, maka seketika cintamu mulai pudar…”

Rama: “Lalu sekarang apa? Rahwana sudah terhimpit tebing yang sangat keras dan tak kan mungkin bisa lolos…”

Sinta: “Aku akan menunggu.”

Rama: : “Sampai kapan?”

Sinta: “Seratus tahun, seribu tahun, Aku tak peduli, Aku sabar…”

Rama: “Kau gila!!”

Sinta: “Bagaimana Aku bisa mencintaimu. Jika pengorbanan kecil seperti itu saja Kau sebut itu hal yang gila”.

Rama: “Kau benar. Mungkin di dunia ini hanya Rahwana yang cocok untuk bidadari se-edan Kamu!!”

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.

www.000webhost.com