Keberuntungan, Berkah, Musibah, dan Kesialan

Selama ini Saya banyak sekali mengalami kesialan. Sejak dari kecil Saya selalu merasa berada pada kondisi mendapatkan kesialan, dibanding orang lain yang selalu mendapatkan keberuntungan. Sampai dengan saat ini, Saya masih merasakan bahwa Saya ini dilahirkan ke dunia yang fana ini hanya untuk mendapatkan sebuah kesialan. Siaal selama-lamanya…(amit–amit)

Selama Saya masih berpikiran seperti itu, mungkin Saya tidak akan pernah bisa bersyukur untuk hidup Saya. Mungkin juga sampai sekarang, Saya belum tahu cara “bersyukur” yang sesungguhnya itu bagaimana dan seperti apa. Beberapa kali Saya menulis tentang nasib, takdir, dan rezeki, tapi jujur Saya masih belum paham sebenarnya jalan hidup Saya itu seperti apa dan harus bagaimana. Mungkin karena Saya ini bedebah, penjahat atau semacamnya. Terserah mau menyebutnya apa. Para motivator sering berkata:

“Keberuntungan itu tidak ada, yang ada adalah kerja keras dan doa.”

Sampai sini Saya setuju. Namun, kadang Saya berpikir, kenapa setelah kerja keras dan doa yang telah Saya lakukan Saya masih belum bisa mendapatkan keberuntungan seperti orang lain, seperti teman–teman Saya. “Ahh mungkin ini cuman masalah rezeki saja. Setiap orang punya rezekinya masing–masing, tidak akan tertukar.” Sebuah pemikiran untuk berbaik sangka saja pada kondisi yang selalu Saya alami. Kebaikan apalagi yang lebih baik dan bermanfaat daripada berbaik sangka pada kehidupan?

Waktu dulu, Saya bersetuju bersama dengan orang–orang yang berpikiran bahwa, kebetulan dan kesialan itu ada. Sampai dengan sekarang pun seperti itu, Saya masih sedikit bersetuju dengan pemikiran orang yang seperti itu. Namun, sedikit demi sedikit Saya mendapatkan keberuntungan dari orang–orang yang memberikan nasihat tidak secara langsung, tapi Saya melihatnya di beberapa media yang Saya baca yang mana si orang yang memberikan nasihat bukan untuk menasihati orang lain melainkan menasihati diri sendiri tapi orang lain dapat memahami bahwa nasihat itu untuk dia(orang yang membaca). Saya lebih senang dengan orang yang seperti itu. Memberi nasihat tanpa menasihati, memberikan nasihat tanpa menyinggung yang dinasihati, menasihati diri sendiri yang berdampak orang lain ternasihati. Buat Saya orang seperti itu adalah seorang motivator yang sebenarnya.

Dengan bertambahnya usia dan berkembangnya pola pikir, Saya sedikit merubah pendapat Saya dan berkesimpulan bahwa, kebetulan itu tidak ada, yang ada adalah takdir. Musibah itu adalah rezeki dalam bentuk berbeda untuk makhlukNya. Keberuntungan dan kesialan itu hanya kata ganti dari rezeki.

Diposting oleh Bayu Handono pada
Label:

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.

www.000webhost.com