Obsesif Kompulsif

Mungkin ini sedikit berbeda dengan obsesi biasa. Akhir–akhir ini saya baru sadar bahwa saya mungkin menderita kelainan psikologis yang bernama obsesif kompulsif. Sebenarnya sudah sejak lama saya mengalami ini. Mungkin dari kecil, tapi tidak begitu terasa dan tidak separah sekarang ini. Saya coba mencari tulisan tentang kelainan ini, dan saya menemukan beberapa artikel yang menjelaskan bahwa kelainan ini berupa campuran pikiran obsesif dan perilaku kompulsif. Yang mana orang yang mengalami ini akan merasa seperti orang yang tidak percaya apa yang sudah dilakukannya dan akan melakukan repetisi sampai benar–benar yakin dengan apa yang sudah dilakukannya bahkan bisa sampai lebih dari sepuluh kali. Setelah saya membaca beberapa tulisan di internet, saya dapat menyimpulkan bahwa saya kemungkinan besar mengidap kelainan psikologis yang bernama obsesif kompulsif.

Ada beberapa gejala OCD(Obsessive Compulsive Disorder) diantaranya:

  • Gejala OCD yang dialami tiap penderita berbeda-beda. Ada yang ringan dimana penderita menghabiskan sekitar 1 jam bergelut dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya, tapi ada juga yang parah hingga gangguan ini menguasai dan mengendalikan hidupnya.
  • Penderita OCD juga umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kelegaan sementara.
  • Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa takut atau kecemasan. Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan berkurang.
  • Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara. Namun obsesi serta kecemasan akan kembali muncul dan membuat penderita mengulangi pola itu.
  • Sifat perfeksionis berbeda dengan gejala OCD. Menjaga kebersihan serta kerapian yang berlebihan bukan berarti Anda otomatis mengidap OCD. Pikiran OCD bukan hanya sekedar rasa cemas yang ekstrem tentang masalah dalam kehidupan. Jika obsesi dan kompulsi sudah menghambat rutinitas, harap periksakan diri ke dokter atau psikolog. 1
  • Dari keterangan itu saya bisa simpulkan bahwa saya menderita gangguan psikologis Obsessive Compulsive Disorder. Dari gejala–gejala di atas, tidak semuanya ada pada saya. Hanya saja saya bisa berperilaku atau melakukan kegiatan yang berulang beberapa kali melampaui batas kelakuan orang normal. Dulu, saya tidak separah ini atau mungkin hanya belum sadar saja. Saya tidak terlalu memikirkan bagaimana kehidupan saya ke depannya, tapi akhir–akhir ini saya seperti orang stres… hampir tiap menit saya kepikiran nasib saya ke depan. Mungkin ini wajar karena didukung dengan keadaan terpuruk saya saat ini, tapi saya rasa sudah kelewat batas karena hampir tiap waktu saya selalu kepikiran hal–hal yang aneh–aneh yang sebetulnya belum tentu akan terjadi. Apalagi akan sangat terasa saat bangun tidur di pagi hari, pikiran pasti langsung kemana–mana. Saya merasa keadaan yang saya alami ini cuma mimpi saja.

    Sejak dari kapan saya lupa, tapi saya sekarang sangat sering mengulang–ulang hal yang tidak begitu ada pengaruhnya. Seperti saat saat saya mengunci pintu. Saya biasanya paling terakhir tidur di malam hari, saya bisa tidur jam 12 atau jam 1 malam. Saat saya mengunci pintu, saya akan memeriksanya kembali berulang–ulang sampai saya yakin pintu sudah terkunci, mungkin ini masih biasa dianggap wajar dan normal. Setelah saya yakin pintu sudah terkunci, saya pergi. Dan beberapa menit atau beberapa jam kemudian, pasti saya akan memeriksa pintu kembali apa sudah terkunci atau belum bahkan saya bisa melakukannya lebih dari tiga kali. Ini seperti penyakit pikun atau pelupa, tapi saya rasa saya bukan orang pikun ataupun pelupa. Semakin saya mencoba meyakinkan diri bahwa pintu itu sudah terkunci malah semakin ingin terus memeriksanya kembali, sampai saya seperti orang gila.

    Bukan cuma itu saja. Biasanya saya mandi dengan urutan kegiatan dimulai dari gosok gigi, lalu membasuh rambut dan kepala lalu membasuh muka. Kemudian ber–sampo pada rambut saya lalu membasuh muka saya kembali dan menyabuni muka saya. Lalu membasuh badan dan menyabuni seluruh badan dan membasuh seluruh badan dengan air. Setelah selesai mandi saya masih mengingat apakah saya sudah gosok gigi, apakah bagian dari urutan mandi sudah benar apa belum, apa tadi sudah menyabuni muka atau belum, apa mandi saya sudah bersih atau belum, atau saya harus mandi kembali supaya saya yakin bahwa semua urutannya sudah dilaksanakan? Bahkan pikiran itu bisa nempel terus hingga beberapa menit sampai saya sudah tidak lagi di kamar mandi.

    Hal lain, ketika saya selesai mandi dan memakai baju, saya akan memeriksa apakah baju yang saya gunakan terbalik atau tidak. Sampai berkali–kali bisa sampai lima kali lebih. Setelah saya yakin dan memakai baju itu. Beberapa menit ke depannya pasti saya akan memeriksa kembali apakah baju saya tidak terbalik. Bahkan ini bisa terjadi sampai besoknya. Banyak lagi yang tidak bisa dijabarkan satu persatu. Seperti saat saya membuat status di sosial media ataupun mengunggah gambar di internet saya bakal melakukan repetisi pengecekan seperti orang yang tidak punya rasa percaya diri. Saya pikir saya orangnya perfeksionis, ternyata memang bukan. Sering juga ketika duduk nonton tv, saya akan berdiri–duduk–berdiri–duduk–berdiri–duduk… sampai saya yakin saya benar–benar bisa duduk dengan tidak memikirkan bahwa saya harus berdiri kembali setelah duduk. Dan ternyata itu cuma sebuah gangguan psikologis yang memberikan sugesti pada saya yang ternyata akhir–akhir ini saya barus sadar, memang ada kelainan psikologis semacam ini.

    Hal yang sama juga terjadi jika saya sedang menyalin file di komputer ke sebuah flashdisk atau handphone, saya akan memeriksanya berulang kali sampai saya puas dan merasa file yang disalin sudah tersalin dengan benar dan beberapa menit atau beberapa jam kemudian saya akan memeriksanya kembali sampai berkali–kali.

    Buat sebagian orang itu hal sepele, tapi sebenarnya saya sangat stres dengan kelainan ini. Saya lebih berpikiran bahwa ini bukan kelainan, tapi ini hanya krisis percaya diri saja yang sejak dari kecil saya sudah memilikinya. Mungkin saya harus segera ngobrol dan ngopi ke psikolog.

      [1] Obsessive Compulsive Disorder

    Diposting oleh Bayu Handono pada
    Label:

    0 Komentar

    1. Belum ada komentar.

    www.000webhost.com