Perpanjang SIM di SIM Keliling

22 November 2018 kemarin, saya perpanjangan SIM alias surat izin mengemudi di SIM keliling Jl. Soekarno Hatta no. 529. Sengaja perpanjang SIM di SIM keliling karena alamat SIM berbeda dengan alamat KTP saya, niatnya supaya tidak perlu mutasi karena setahu saya mutasi itu cukup ribet. Apalagi saya tinggal di kabupaten yang biasanya lebih ribet daripada yang tinggal di kota Bandung dalam hal mengurus dokumen.

Saya cari info SIM keliling di instagram, saya milih hari Kamis kemarin 22 November 2018. Sebenernya hampir setiap hari SIM keliling ada cuma saja tempatnya berbeda tiap harinya. Tapi biasanya sering ada di car free day dago atau di car free day lainnya. Saya tidak pernah ke car free day sekalipun, ngapain juga banyak orang saya paling males di kerumunan semacam itu kecuali di keadaan tertentu saja.

Akhirnya saya pun pergi ke tempat SIM keliling di Soekarno Hatta tersebut. Saya kira bakalan sedikit saja yang datang, karena saya sengaja memilih hari kerja supaya tidak terlalu banyak antriannya. Pas sampai di tempat, saya langsung bisa lihat bis/bus/beus SIM keliling yang diadakan oleh polrestabes Bandung(Kota Bandung). Sebelumnya saya mencari info di sosial media, apa bisa memperpanjang SIM tanpa mutasi di SIM keliling kota Bandung, ternyata bisa. Karena sistem sudah online, jadi seluruh orang Indonesia yang ingin memperpanjang di SIM keliling kota Bandung bisa dilayani asal mempunyai E–KTP atau surat keterangan untuk E–KTP. Dan bagusnya SIM keliling bisa melayani jauh hari sebelum jatuh tempo masa SIM kita habis. SIM saya habis tanggal 28 Desember 2018, tapi 22 November 2018 kemarin saya sudah bisa memperpanjang SIM karena blanko untuk SIM sudah tersedia banyak untuk pelayanan di SIM keliling kota Bandung. Setahu saya kalau memperpanjang SIM di polrestabes(kota Bandung) atau polres(Kabupaten Bandung) biasanya harus minimal 2 minggu sebelum masa berlaku SIM habis karena biasanya keterbatasan jumlah blanko SIM yang tersedia.

Sim Keliling Bandung

Jadwal SIM Keliling Kota Bandung

Saya berangkat dari rumah sekitar jam 9–an sampai di tempat sekitar jam 9 lebih. Setelah sampai di tempat saya langsung ke tempat SIM keliling langsung tanya ke orang–orang yang sedang antri. Biasalah di Indonesia kalau ada orang baru datang pasti langsung diliatin semacam ngeliatin penjahat saja, di manapun itu entah di puskesmas, di pom bensin ataupun di antrian lainnya. Dengan penuh rasa malu dan kebingungan saya memberanikan diri untuk bertanya sama mas–mas yang keliatannya horang kayah mungkin dia sedang mau memperpanjang SIM A. Sayapun diberitai supaya mengisi nama supaya nanti dipanggil. Setelah saya ngisi nama, lalu ada dokter yang memanggil untuk menjalani tes kesehatan. Tes kesehatan sepertinya harus tes di tempat, karena kalau tes di puskesmas atau di dokter biasanya disuruh tes ulang di tempat. Saya nunggu lama… kaleee… saya bingung saya coba tanya lagi ke bapak–bapak yang kayaknya sedang barengan dengan istrinya entah anaknya karena ceweknya keliatan lebih sangat muda.

“Pak kalau ini berkasnya langsung diserahin atau gimana ya?”

“Tunggu nanti dipanggil aja”(si bapaknya sambil agak jaim dan cuek, biasalah horang kayah memang selalu begituh)

Setelah nunggu lama sampai jam sebelas kurang, saya akhirnya nanya lagi ke orang yang antri

“A, ini gimana ya apa berkasnya apa harus dikasih langsung ke loket atau gimana?”

“Nanti tunggu dipanggil aja, udah nulis nama belum? no urutnya berapa?”

“Udah, dapet nomer 61…”

“Oh 61 mah udah dari tadi kelewat, coba masuk langsung aja ke dalem buat periksa kesehatan…”

Akhirnya saya langsung masuk buat periksa kesehatan yang ternyata sudah kosong tidak antri, ternyata sudah terlewat dari tadi. Sampai sini saya masih bingung, karena kalau tidak memberanikan untuk tanya–tanya sama orang sudah pasti tidak akan tahu prosedurnya dari mana ke mana karena tidak ada poster atau pamplet penjelasan alurnya. Saya sempat kesal, saya kira dengan sistem yang sudah menjadi online semuanya bakal menjadi instan dan cepat, tapi ternyata sama saja. Cuma memang tidak selama sistem yang belum online. Dengan sistem online khususnya di SIM keliling ini, cuma butuh waktu satu hari saja sudah selesai semuanya sampai dengan cetak SIM langsung di tempat. Ya saya pikir kalau sistem sudah menjadi online harusnya proses menjadi lebih cepat, mungkin harusnya menjadi 1–2 jam saja. Tapi ya sudahlah namanya juga negeri ini dalam masa berkembang, dalam tahap penyesuaian dalam hal birokrasi buat menjadi lebih baik.

Periksa kesehatan terdiri dari tes buta warna. Tes buta warna saya lancar hanya satu saja yang salah tebak, mungkin karena kurang fokus atau karena terburu–buru, pemeriksaan tekanan darah, kata si dokternya tekanan darah saya normal, kemudian tes penglihatan. Saya kira tes penglihatan bakalan dari jarak yang cukup jauh sekitar 3 atau 4 meter, ternyata cuma sekitar 1 sampai 1,5 meter saja dan tes penglihatan berjalan lancar cuman diminta menyebutkan huruf–huruf saja yang ada di gambar dan ditanya matanya minus berapa lalu apa masih bisa melihat dengan jelas. Itu saja sih, cuman sekitar 5 menitan saja. Setelah diperiksa kesehatan saya langsung diminta buat menyerahkan berkasnya ke bagian loket pendaftaran, dan syarat perpanjangan SIM–nya itu terdiri dari:

  • Foto kopi E-KTP
  • SIM asli
  • Surat Keterangan Sehat
  • Saya sempat baca dan browsing, katanya kalau data di KTP dan SIM berbeda harus membuat surat keterangan di kertas folio dan tanda tangan di atas materai. Tapi ternyata tidak, cukup mengisi formulir saja dan harus sesuai KTP ya supaya tidak lam,a lagi prosesnya. Setelah saya menyerahkan berkas ke pendaftaran, saya harus menunggu lagi dipanggil buat pembayaran pembuatan SIM. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk perpanjangan SIM:

  • Biaya Tes Kesehatan Rp40.000
  • Biaya Perpanjangan SIM C Rp75.000
  • Biaya Asuransi Rp50.000
  • Total Saya harus mengeluarkan biaya sebesar 165 ribu untuk perpanjang SIM C.

    Setelah dipanggil dan melakukan pembayaran di loket pendaftaran, saya harus menunggu lagi dipanggil untuk dilakukan foto, ambil sidik jari dan tanda tangan sama seperti saat pembuatan E–KTP ataupun pembuatan SIM sebelumnya. Lalu saya diberi formulir yang harus diisi. Setelah mengisi formulir, formulir harus diserahkan lagi ke bagian pendaftaran untuk diproses dan saya harus menunggu lagi sampai dengan SIM yang baru di cetak dan SIM sudah langsung jadi. Di sana juga biasanya ada yang jual pulpen, jasa foto kopi dan laminating/pasang anti gores untuk SIM buat yang mau.

    Sim

    Muka demek…

    Total waktu mulai dari saya sampai di tempat dan selesai sampai SIM yang baru jadi sekitar 4 jam lebih, dari jam 9 lebih sampai dengan SIM baru jadi jam 1.30 siang. Lumayan cepat untuk perpanjang SIM buat saya, tapi juga lumayan lama untuk sebuah sistem yang sudah online. :p

    Saya tidak sempat foto–foto karena saya sudah males duluan harus nunggu yang lumayan lama buat orang yang tidak sabaran seperti saya… yang mana menunggu lama seperti itu sudah menjadi sebuah kewajaran di negeri ini. Saya harap dalam hal apapun bukan hanya perpanjang SIM saja, tapi dalam hal birokrasi lainnya bisa lebih baik dan yang pasti lebih cepat lagi.

    23 November 2018

    Diposting oleh Bayu Handono pada
    Label:

    0 Komentar

    1. Belum ada komentar.

    www.000webhost.com