Sinting tapi Benar

Zaman sekarang adalah zaman yang menganggap semakin pintar dan banyak berbicara maka semakin tinggi ilmunya. Memang jika seseorang mempunyai pengetahuan yang banyak kemungkinan besar berbanding lurus dengan kemampuan kecakapan verbal. Bukan berarti juga yang jarang ngomong tidak pintar. Zaman sekarang kalau kamu ingin dianggap oleh orang, ya mesti pintar berbicara dan pintar dalam bergaul. Sangat berlawanan dengan karakter saya yang jarang ngomong. Bukan berarti juga saya orang yang pintar menjaga omongan. Saya hanya mengatur apa yang mestinya saya bicarakan dan apa yang semestinya saya simpan saja. Atau mungkin memang saya ini orangnya pemalesan dalam segala hal.

Zaman sekarang kalau tidak pintar berbicara bakalan tertinggal dalam hal apapun. Karena secara langsung maupun tidak langsung orang yang pandai berbicara akan otomatis akan mudah dalam hal pergaulan dengan orang–orang. Banyak juga yang jarang bicara tapi bisa dengan mudah bergaul dan mudah melebur dengan orang lain dan lingkungan yang baru. Lain dengan saya. Saya sudah jarang ngomong, sulit bergaul pula. Kadang saya bingung, saya mesti berubah atau mesti begini saja. Saya bisa saja berubah menjadi orang yang sedikit lebih banyak berbicara dan mudah menerima orang dalam hidup saya, tapi kok malah seperti tidak menjadi diri saya sendiri. Saya malah seperti sedang menjadi orang lain yang saya sendiri tidak mengenal diri saya sendiri.

Kadang saya juga sering terjebak dengan omongan saya sendiri. Sudah jarang ngomong tapi masih bisa terjebak dengan omongan saya sendiri…? Apalagi kalau saya sering ngomong…

Jujur saja, zaman sekarang bakalan sangat tertinggal kalau kamu tidak pandai bicara dan kurang pandai bergaul. Karena mau tidak mau kamu harus mengikuti perkembangan zaman yang semakin ruwet dan semakin ketat. Zaman sekarang pekerjaan apa yang tidak melibatkan banyak omongan? Kalaupun ada pasti tidak banyak.

Ngomong–ngomong soal “banyak bicara”… Saya lebih bisa respect pada orang–orang yang banyak bicara. Karena saya orangnya pasif, tidak akan mengajak bicara duluan sebelum didahului orang lain, saya lebih senang dengan orang yang banyak bicara karena saya bisa dengan khusyuk mendengarkan orang lain berbicara dibandingkan saya yang harus berbicara. Dengan catatan yang dia bicarakan itu berbobot dan sesuai dengan tingkah lakunya. Saya paling tidak senang dengan orang yang pintar berbicara tapi hanya omong doang. Apa yang dia bicarakan tidak selaras dengan tingkah lakunya.

Sudah lebih jelas–jelas sekalian saja seperti orang atau tokoh yang memang bicaranya ngawur tapi benar. Seperti Sujiwo Tejo, kemudian Tukul Arwana. Karena apa yang mereka bicarakan sesuai dengan apa yang mereka perbuat. Memang saya pengagum Sujiwo Tejo, bukan berarti saya sangat memujanya. Kenyataanya banyak dari omongan beliau yang benar. Seperti dia pernah berkata,

“Pemimpin bertangan besi mematikan nyali, pemimpin yang di–dewakan mematikan nalar.”

Sudah beberapa waktu lalu juga saya baru tahu bahwa ternyata ada dua orang ulama yang jadi murid Sujiwo Tejo. Murid itu adalah KH. Mustofa Bisri dan Cak Nun. Awalnya saya kira beliau bercanda mempunyai dua murid yang ternyata ulama. Ternyata memang benar saja saya sempat melihat cuitan di twitter kalo tidak salah yang mana Gus Mus menyebut dan berkata pada Sujiwo Tejo, “Iya Guru…”

Berbeda dengan Gus Mus. Cak Nun ini sangat nyeleneh. Kalau salah belajar pada beliau bisa–bisa jadi salah paham dan sesat. Saya tidak menyebut beliau sesat, hanya saja beliau berbicara dan mengutarakan sesuatu dengan kalimat–kalimat yang unik dan sedikit sulit diterima oleh akal sehat. Walau begitu perkataan–perkataanya yang dikemukakan itu banyak benarnya.

Mungkin saja mereka sedang bercanda atau bisa jadi memang Mbah Tejo satu perguruan/pesantren dengan Gus Mus dan seperti itu bercandaan mereka. Tapi setidaknya saya jadi tidak ragu bahwa orang ngawur seperti Sujiwo Tejo saja bisa disebut guru oleh ulama sekelas Gus Mus. Ini menjadi poin lebih penilaian saya terhadap orang–orang yang saya kagumi. Setidaknya saya tidak mengagumi orang yang kosong. Tidak seperti kebanyakan tokoh–tokoh yang hanya bisa banyak bicara tapi tidak sesuai dengan tingkah laku dan perbuatannya, yang cuma bisa protes dan protes saja kerjaaanya tanpa ada kontribusi apapun untuk pemerintah dan negara.

Diposting oleh Bayu Handono pada
Label:

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.

www.000webhost.com